TUGAS PENGGANTI UAS MANAJEMEN LOGISTIK RS MANAJEMEN LAUNDRY BERWAWASAN LINGKUNGAN

 

TUGAS PENGGANTI UAS MANAJEMEN LOGISTIK RS

MANAJEMEN LAUNDRY BERWAWASAN LINGKUNGAN

Dosen Pengampu : Safari Hasan, S.IP., M.MRS

 


Oleh : Ragilang Gema Yanuar

10821021

PROGRAM STUDI S1 ADMINISTRASI RUMAH SAKIT

FAKULTAS TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN KESEHATAN

INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

KEDIRI

2023

 


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan dan rahmat-Nya kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah Teknologi Sarana Prasarana Rumah Sakit tentang Manajemen Laundry berwawasan lingkungan ini disusun sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan tugas pengganti UAS Mata Kuliah Manajemen Logistik Rumah Sakit.

Demikian pula saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini saya masih banyak kekurangan dan kesalahan baik dalam segi substansi maupun tata bahasa. Namun, saya tetap berharap agar makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Oleh karena itu, kritik dan saran dari penulisan makalah ini sangat saya harapkan dengan harapan sebagai masukan dalam perbaikan dan penyempurnaan pada makalah saya berikutnya. Untuk itu saya ucapkan terimakasih.

                                                                                   

                                                                    Kediri, 19 Juli 2023

 

 

                                                                               Penulis    

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Selama ini laundry masih dipandang sebagai hal yang tidak terlalu penting. Bahkan lokasi dan peralatannya sering kali kurang diperhatikan oleh manajemen rumah sakit. Padahal linen merupakan salah satu materi yang dipakai berulang kali di rumah sakit sehingga tanpa manajemen laundry yang benar, memungkinkan terjadinya wabah infeksi kuman pathogen. Sebenarnya aturan tentang Pengelolaan Tempat Pencucian Linen (Laundry) Rumah Sakit telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 1204 tahun 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, namun belum semua rumah sakit mampu memenuhinya.

Bahkan PERSI mengimbau agar setiap rumah sakit harus memiliki laundry terstandar, atau melakukan outsource dengan monitoring ketat kepada penyedia laundry di luar rumah sakit. Aturan mengenai laundry terstandar diatur dalam ketentuan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan  RI dan diadopsi oleh KARS sebagai syarat proses akreditasi rumah sakit. Melihat hal tersebut rumah sakit perlu memiliki komitmen dan kemampuan menganalisa kebutuhan laundry rumah sakit masing-masing serta mempunyai kompetensi untuk mengerti proses terutama dalam hal menjaga mutu hasil.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :

1.    Apa itu laundry rumah sakit?

2.    Bagaimana aspek Input (masukan) pengelolaan?

3.    Bagaimana aspek proses pengelolaan?

4.    Bagaimana karakteristik laundry eco friendly?

5.    Bagaimana manajemen Laundry Berwawasan Lingkungan (Eco-Friendly) di Rumah Sakit?

6.    Bagaimana sarana fisik, prasarana dan peralatan?

 

 

1.3  Tujuan

 

1.    Untuk mengetahui apa itu laundry rumah sakit

2.    Untuk mengetahui aspek Input (masukan) pengelolaan

3.    Untuk mengetahui aspek proses pengelolaan

4.    Untuk mengetahui karakteristik laundry eco friendly

5.    Untuk mengetahui manajemen Laundry Berwawasan Lingkungan (Eco-Friendly) di Rumah Sakit

6.    Untuk mengetahui sarana fisik, prasarana dan peralatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Laundry rumah sakit

Rumah  sakit  (RS)  sebagai  salah satu  fasilitas  kesehatan  dituntut  untuk memberikan   pelayanan   yang   bermutu kepada  masyarakat.  RS  adalah  institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan  pelayanan  kesehatan perorangan     secara     paripurna     yang menyediakan    pelayanan    rawat    inap, rawat jalan, dan gawat darurat. RS dalam memberikan pelayanan medik tidak akan berhasil    jika    tidak    ditunjang    oleh pelayanan  non  medik.  Pelayanan  non medik    diantaranya    adalah    instalasi gizi/dapur,  instalasi  logistik,  insatalasi laundry, daninstalasi  lainnya.  Instalasi logistik mengelolaa semua logistik di RS baik  yang  medis  maupun  non  medis. Logistik  medis  seperti  obat-obatan  dan alat   kesehatan   sedangkan   non   medis seperti   bahan   makanan,   sarana   dan prasarana, alat tulis kerja, linen dan lainsebagainya. Instalasi laundry merupakan unit     penunjang     non     medik     yang memberikan  pelayanan  linen  terutama kepada pasien rawat inap. Penyelenggaraan pelayanan laundry di  RS  tidak  terlepas  dari  mutu. Mutu menunjukan tingkat kesempurnaan pada pelayanan laundry yang diberikan. Apabila    mutu    ini    tercapai    dengan sempurna   maka    akan   meningkatkan   kepuasan pasien sehingga akan menambah kepercayaan pasien terhadap pelayanan RS.

Laundry rumah sakit adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan disinfektan, mesin uap (steam boiler), pengering, meja dan mesin setrika. Laundry rumah sakit adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan disinfektan, mesin uap (steam boiler), pengering, meja dan mesin setrika.

Linen yang akan digunakan harus dalam kondisi bersih dan bebas dari kuman penyakit; maka dilakukan pencucian atau disebut juga Laundry Rumah Sakit yang didalamnya termasuknya juag proses Sterilisasi. Linen juga harus nyaman digunakan oleh pasien; maka dilakukan pemeliharaan, perbaiakan atau penggantian. Maka Linen Laundry Rumah Sakit adalah tata kelola segala bahan kain yang dibutuhkan rumah sakit beserta pencuciannya.

Peran pengelolaan manajemen linen di rumah sakit cukup penting. Diawali dari perencanaan, salah satu subsistem pengelolaan linen adalah proses pencucian. Alur aktivitas !ungsional dimulai dari penerimaan linen kotor, penimbangan, pemilahan,proses pencucian, pemerasan, pengeringan, sortir noda, penyetrikaan, sortir linenrusak, pelipatan, merapikan, mengepak atau mengemas, menyimpan, dan mendistribusikan ke unit – unit yang membutuhkannya, sedangkan linen yang rusakdikirim ke kamar jahit.

Untuk melaksanakan aktivtas tersebut dengan lancar dan baik, maka diperlukanalur yang terencana dengan baik. Peran sentral lainnya adalah perencanaan,pengadaan, pengelolaan, pemusnahan, kontrol dan pemeliharaan !asilitaskesehatan, dan lain – lain, sehingga linen dapat tersedia di unit – unit yangmembutuhkan.

2.2 Aspek Input (masukan) pengelolaan

a.    Sumberdaya Manusia (SDM)

Dibeberapa  rumah  sakit  yang  ada  di  Indonseia  terlihat  bahwa  kualitas  maupun  kuantitas sumberdaya manusia (SDM) yang tersedia belum memadai. Masih terdapat kekurangan staf di instalasi laundry, antara lain: tenaga ahli manajemen, perawat, teknisi  in-house, dan tenaga quality control. Dari segi kualitas masalah juga terdapat pada SDM yang melakukan pengelola linen dengan latar belakang pendidikan tidak memenuhi standar serta tidak pernah mengikuti pelatihan khusus untuk meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan linen.

b.    Sarana Prasarana

Kurangnya penyimpanan keranjang cucian, ruang  dekontaminasi, ruang  untuk memisahkan linen  infeksius  dari  non-infeksi,  gudang bahan  kimia,  dan infrastruktur  kamar yang  tidak memadai merupakan indikasi bahwa input terkait ketersediaan peralatan dan infrastruktur di beberapa  rumah  sakit  umum  regional  di  Indonesia  tidak  mencukupi.  Sehingga  sistem penyimpanan  linen  di  rumah sakit  menggunakan sistem  desentralisasi,  dimana linen  yang sudah  jadi  langsung didistribusikan  ke ruangan-ruangan.  Tidak  hanya infrastruktur,  proses penangan juga dapat terkendala akibat pelaratan yang tidak memadai berupa masih ada mesin yang  rusak,  pompa  air  yang  tidak  memadai,  kurangnya  timbangan  untuk  cucian  kotor. Sebaliknya, semua peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk pelaksanaan manajemen linen di rumah  sakit telah cukup tergabung dalam sarana dan prasarana di RSUD Tugurejo terkait.  Menurut  Kementerian  Kesehatan  Republik  Indonesia,  ada  sumber  daya  dan infrastruktur yang cukup  untuk mengelola linen  yang sesuai  dengan kode.

c.     Kebijakan

Banyak rumah sakit di Indonesia yang belum mengelola penanganan linen sesuai dengan SOP, dan masih ada beberapa rumah sakit yang belum memiliki SOP terkait pengelolaan linen. Salah satu rumah sakit di Kota Dumai tidak memiliki pernyataan visi dan misi, rencana kerja, struktur organisasi, dan uraian tugas yang jelas terkait pengelolaan linen  di rumah sakitnya. Selain itu, tidak ada pengawasan, tidak ada resolusi konflik, penanganan di bawah standar,  dan  tidak  ada  kegiatan  evaluasi yang  pernah  dilakukan.  Selain  itu, kurangnya koordinasi antara petugas laundry dan departemen lain menyebabkan kontrol manajemen belum  optimal,  terutama  dalam  hal  perbaikan  fasilitas  dan  peralatan.  Petugas  instalasi laundry masih sering bekerja tanpa mengenakan alat pelindung diri (APD).

Adanya SOP tersebut dapat membantu  para petugas dalam resiko  kecelakaan kerja  bagi karyawan,  kerusakan  alat,  maupun  kerusakan  linen  bisa  dikendalikan  serta  bisa dipertanggungjawabkan. Selain sebagai pedoman kerja, adanya SOP juga dapat menjadikan karyawan lebih sadar terhadap tanggung jawab  yang mereka  pikul, sehingga dapat lebih disiplin dalam bekerja.

2.3 Aspek proses pengelolaan

Dari aspek proses terdapat beberapa indikator yang menjadi tolak ukur penyebab terjadinya kendala dalam pengelolaan linen dirumah sakit. Berawal dari proses perencanaan belum ada batasan standar terkait penggunaan linen, pengadaan linen hanya dilakukan dengan perkiraan tanpa  melalui  perhitungan  yang  tepat.  Pemeliharaan  linen  sudah  dilakukan  semaksimal mungkin  namun  belum adanya proses penjahitan terhadap linen  yang  sobek,  pada tahapan pengendalian dibeberapa rumah sakit belum adanya tindak lanjut pengadaan kembali terhadap kasus kerusakan maupun kehilangan linen untuk memastikan jumlah linen tetap tersedia dengan cukup.

a.    Tahap pengumpulan dan pencatatan

Pada saat pengumpulan, tidak ada perbedaan antara linen yang terinfeksi dan tidak menular, dan  tidak  ada pelacakan  pergerakan linen  masuk dan  keluar dari fasilitas  binatu ke  ruang perawatan.  Dalam  penelusuran  dokumentasi  ditemukan  temuan  mengenai  tidak  adanya pencatatan dan pelaporan di  rumah sakit. Setiap hari staf telaH mencatat tetapi tidak sesuai dengan pedoman manajemen linen. Namun, proses pendokumentasian linen keluar masuk telah dilakukan di salah satu rumah sakit dengan menggunakan kartu resi sebagai bukti, yang berisi jenis dan  jumlah  linen dan  dicap  dengan tanda  tangan petugas penerima linen  dan petugas kamar.

b.    Tahap pencucian dan penyetrikaan

Pada  tahapan  pencucian  cucian  linen  kotor  dibeberapa  rumah  sakit  belum  bisa  dikatakan memenuhi  persyaratan,  dikarenakan  linen  belum  dikategorikan    dan tidak  ada  pemishaan anatara linen infeksius dan non-infeksiusi. Namun, RS Azra Bogor memulai proses pencucian linen dengan  terlebih dahulu  mengklasifikasikan jenis, warna, dan  tingkat sampah.  Pakaian kotor kemudian ditimbang untuk  menentukan jumlah  deterjen yang tepat  untuk digunakan. Untuk mengurangi kemungkinan linen lain terkontaminasi, mesin cuci yang berbeda digunakan untuk  mencuci  linen  yang  menular  dan  tidak  menular.

c.     Tahap pendistribusian

Pada  tahap  pengangkutan,  permasalahan  didominasi  oleh  ketidak  patuhan  petugas  dalam menggunakan APD secara lengkap saat mengangkut linen kotor,  serta dibeberapa rumah sakit juga masih didapatkan penggunaan troli yang masih tercampur antara linen bersih dan linen kotor. Menurut PERMENKES No. 7 Tahun 2019 tentang kesehatan lingkungan rumah, proses pencucian linen dilakukan  dengan  menggunakan kantong untuk  mengikat  linen bersih  atau kotor menggunakan troli yang berbeda dan saling melengkapi. Troli linen bersih dibuat dengan pintu terbuka ke  samping, sedangkan troli linen kotor memiliki pintu yang terbuka ke atas. Permukaan troli perlu disegel dengan lapisan yang tahan lama di setiap persimpangan untuk mencegah kebocoran. Persebaran pakaian bersih tidak merata karena pencatatan linen keluar masuk saat ini di bawah standar.

d.    Tahap Penyimpanan

Untuk membuatnya lebih mudah untuk mengamati stok linen bersih yang ada di tangan dan pengaturan linen agar tetap sesuai dengan jenisnya, penyimpanan linen harus dilakukan dalam lemari  kaca.  Dengan  pendekatan  FIFO,  dimungkinkan  untuk  mempermudah  petugas manajemen linen untuk mengambil linen ketika ada permintaan untuk itu dari ruangan yang membutuhkan selain stok linen yang tersedia (setidaknya 4 bagian). Namun pada kenyataan yang terjadi dirumah sakit, masih terdapat tempat penyimpanan linen yang kurang memadai serta linen bersih yang belum diberi plastik. Padahal plastik berfungsi untuk meminimalisir kontaminasi pathogen yang mungkin saja terjadi, sehingga kualitas linen tetap terjaga hingga digunakan.  Sedangkan  syarat  ruang  penyimpanan  yang  bersih,  bebas  bau  dan  lembab. Manajemen pengelolaan linen yang belum  optimal dapat menghasilkan  kualitas linen  yang buruk, masih terdapat bercak noda pada linen, linen tidak wangi dan linen terlihat berserat. Dari segi kuantitas, ketersedian linen belum terpenuhi diruang rawat perawatan, hal ini di sebabkan pendistribusian linen yang belum terlaksana dengan baik. Fakta bahwa masih ada 3,4% insiden kehilangan linen menyoroti pentingnya menciptakan sistem untuk pengawasan dan manajemen linen.

Namun, administrasi linen di berbagai rumah sakit Indonesia biasanya di bawah standar dan tidak  mematuhi  persyaratan  yang  relevan.  Hal  ini  tercermin  dalam  berbagai  tahapan penanganan linen di bawah standar selama penyortiran, penerimaan, pendistribusian, pencucian dan penyimpanan.  Selain itu,  staf atau  pekerja masih  banyak yang membutuhkan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan linen. Serta kualitas linen bersih yang dihasilkan belum memenuhi persyaratan secara secara fisik. Kontrol kualitas dari pengelolaan linen menemukan bahwa terlepas dari kekurangan tertentu dalam tenaga kerja, peralatan, dan proses, layanan linen dan laundry memberikan layanan yang memuaskan bagi penggunanya. Namun layanan dapat lebih ditingkatkan dengan membenahi kekurangan, baik  pada tingkat aspek masukan maupun proses dalam penanganan linen yang dilakukan Rumah sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan.   Pemeriksaan literatur dari sumber-sumber  tersebut  di atas mengungkapkan  bahwa  rumah sakit  Indonesia mengadopsi  standar laundry  untuk  mengurangi  risiko penularan  penyakit.

2.4 Karakteristik laundry eco friendly

a.    Penggunaan Bahan Ramah Lingkungan

Laundry Eco Friendlymemprioritaskan penggunaan deterjen, perebusan, dan bahankimia lainnya yang rendah atau bebas dari zat-zat berbahaya,seperti fosfat, alkilfenol etoksilat (APEO), klorin, dan pewangibuatan. Bahan-bahan ini dapat mencemari air dan tanah sertamenyebabkan dampak negatif pada lingkungan.

b.    Pengelolaan Air dan Energi yang Efisien

Sistem Laundry Berwawasan Lingkungan (Eco-Friendly) di rumah sakit mencakuplangkah-langkah untuk mengurangi konsumsi air dan energi.Teknologi canggih seperti mesin cuci yang hemat air dan sistemrecirculation untuk air cuci bisa diterapkan. Selain itu, programpenghematan energi, seperti penggunaan pemanas air denganefisiensi tinggi dan penggunaan energi terbarukan, juga merupakanbagian dari pendekatan eco-friendly ini.

c.     Pengurangan Limbah dan Daur Ulang

Laundry Eco Friendly dirumah sakit berusaha untuk mengurangi limbah yang dihasilkandari proses pencucian pakaian. Penggunaan sistem daur ulang untuk air, limbah deterjen, dan kemasan menjadi pilihan untukmengurangi dampak pada lingkungan.

d.    Edukasi dan Pelatihan Tenaga Kerja

Implementasi Laundry EcoFriendly memerlukan perubahan perilaku dan kesadaran daritenaga kerja di rumah sakit. Oleh karena itu, pelatihan dan edukasiyang berkaitan dengan praktik eco-friendly, penggunaan peralatandengan benar, dan Manajemen limbah menjadi penting untukditerapkan

e.    Penggunaan Teknologi Canggih

Penerapan teknologi canggih dalam proses laundry dapat membantu meningkatkan efisiensi danmengurangi dampak lingkungan secara signifikan. Contohnya,penggunaan mesin cuci dengan teknologi penghemat air danenergi, sistem otomatisasi, dan sensor yang mengatur jumlah air dan deterjen yang tepat sesuai dengan beban cucian.

Laundry Eco Friendly di rumah sakit merupakan komitmen untukmeminimalkan jejak lingkungan dan kesehatan akibat kegiatan pencucianpakaian, sambil tetap menjaga standar kebersihan dan sanitasi yang tinggi.Implementasi Manajemen Laundry Berwawasan Lingkungan (Eco-Friendly) di rumah sakit tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan,tetapi juga dapat mengurangi biaya operasional jangka panjang danmeningkatkan citra rumah sakit sebagai lembaga yang bertanggung jawabsecara sosial dan lingkungan.

2.5 Manajemen Laundry Berwawasan Lingkungan (Eco-Friendly) di Rumah Sakit

1.    Penggunaan Bahan Less Chemical dan Ramah Lingkungan

Strategi Manajemen Laundry Berwawasan Lingkungan (Eco-Friendly) diRumah Sakit yang berfokus pada penggunaan bahan less chemical danramah lingkungan merupakan langkah penting untuk mengurangi dampaknegatif pada lingkungan serta memastikan kualitas dan kebersihan linenyang dihasilkan tetap sesuai standar kesehatan. Berikut adalah penjelasanpanjang mengenai strategi penggunaan bahan less chemical dan ramahlingkungan dalam Manajemen laundry di rumah sakit:

a.    pemilihan Deterjen dan Pemutih Ramah Lingkungan

Dalam strategi ini, rumah sakit harus memilih deterjen dan pemutihyang mengandung bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan.Deterjen dan pemutih dengan kandungan bahan kimia yangrendah, seperti fosfat, klorin, dan fragran sintetis yang berbahaya,dapat mengurangi dampak negatif pada ekosistem air dan tanahsetelah air cucian dibuang. Sebagai alternatif, rumah sakit dapatmenggunakan deterjen dan pemutih berbasis bahan alami atauorganik yang lebih mudah terurai dan tidak berbahaya bagilingkungan.

b.    Proses Rinsing yang Efektif

Rumah sakit perlu memastikan bahwa proses rinsing ataupembilasan air cucian dilakukan secara efektif untukmenghilangkan sisa deterjen dan pemutih sepenuhnya dari linen.Jika tidak, sisa bahan kimia tersebut dapat menyebabkan iritasi kulitbagi pasien dan staf medis, serta dapat berdampak negatif padalingkungan jika dibuang tanpa benar.

c.     Penggunaan Metode Penghilangan Noda yang Ramah Lingkungan

Rumah sakit dapat mengadopsi metode penghilangan noda yangramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada bahankimia berbahaya. Beberapa bahan alami seperti cuka, baking soda,atau perasan jeruk nipis dapat digunakan sebagai pengganti nodakimia. Penggunaan metode ini juga akan membantu menghindaripaparan berbahaya pada staf laundry dan lingkungan sekitar.

d.    Penggunaan Sistem Penyaringan Air dan Pencucian Kembali Air Cucian

Penggunaan sistem penyaringan air dan pencucian kembali aircucian yang terkontrol dapat membantu mengurangi penggunaan air bersih dalam proses laundry. Air cucian yang sudah diproses dan disaring kembali dapat digunakan kembali untuk pencucianlinen yang tidak memerlukan kualitas air tinggi, seperti linen handukatau linen non-medis.

Melalui strategi penggunaan bahan less chemical dan ramahlingkungan dalam Manajemen laundry di rumah sakit, institusi kesehatandapat mencapai tujuan lingkungan yang lebih baik, meminimalkan dampaknegatif pada ekosistem, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebihaman dan sehat bagi staf laundry dan pasien. Dengan memprioritaskankeberlanjutan dan keamanan lingkungan dalam operasi laundry, rumahsakit juga dapat menjadi contoh bagi institusi kesehatan lainnya untukmenerapkan praktik eco-friendly yang bertanggung jawab terhadap bumi kita.

2.    Efisiensi Air dan Energi dalam Proses Laundry

Dalam upaya meningkatkan keberlanjutan dan ramah lingkungandalam operasi laundry di rumah sakit, efisiensi penggunaan air dan energimenjadi salah satu aspek kunci yang harus diperhatikan. Penggunaan airyang berlebihan dan energi yang tidak efisien dapat menyebabkan dampaknegatif pada lingkungan, termasuk meningkatnya konsumsi energi,penggunaan air bersih, serta produksi limbah dan emisi karbon. Olehkarena itu, pengembangan strategi Manajemen Laundry BerwawasanLingkungan (Eco-Friendly) yang berfokus pada efisiensi air dan energiakan membawa manfaat besar dalam mengurangi dampak lingkungan danmengoptimalkan operasional laundry di rumah sakit. Berikut adalahpenjelasan panjang tentang beberapa strategi yang dapatdiimplementasikan untuk mencapai efisiensi air dan energi dalam proseslaundry di rumah sakit:

a.    Penggunaan Mesin Cuci Berbasis Teknologi TerkinI

Penggunaan mesin cuci yang berbasis teknologi terkini menjadistrategi efektif dalam meningkatkan efisiensi air dalam proseslaundry. Mesin cuci dengan teknologi tinggi dilengkapi dengansistem otomatisasi yang dapat menyesuaikan jumlah air yangdigunakan dengan beban cucian. Selain itu, pengaturan suhu dandurasi proses pencucian yang tepat pada mesin cuci jugamembantu mengurangi konsumsi air secara signifikan.Penggunaan mesin cuci berkapasitas besar juga dapat mengurangifrekuensi pencucian dan penggunaan air secara keseluruhan.

b.    Implementasi Pengering Berenergi Rendah

Penggunaan pengering yang berenergi rendah menjadi strategipenting dalam meningkatkan efisiensi energi dalam proses laundry.Pengering berenergi rendah menggunakan teknologi pemanasyang hemat energi, sistem pengeringan yang lebih efisien, dansistem pengaturan suhu yang tepat. Dengan pengeringan yanglebih efisien, waktu yang dibutuhkan untuk mengeringkan linendapat dikurangi, sehingga konsumsi energi juga berkurang.

c.     Rekayasa Ulang Proses Penggunaan Air Cucian

Meminimalkan penggunaan air bersih dalam proses pencucianadalah tujuan utama dalam strategi efisiensi air. Salah satupendekatan adalah dengan menggunakan sistem daur ulang aircucian. Air cucian yang telah digunakan untuk mencuci linen yanglebih ringan dapat digunakan kembali untuk mencuci linen yanglebih kotor atau memulai siklus pencucian berikutnya. Teknologipengolahan air cucian dapat menghilangkan kotoran dankontaminan, sehingga air tersebut dapat digunakan kembali tanpa membahayakan kebersihan linen.

d.    Penerapan Sistem Penyimpanan Energi

Rumah sakit dapat mempertimbangkan penerapan sistempenyimpanan energi, seperti penggunaan baterai cadangan atauteknologi penyimpanan energi lainnya. Sistem ini akan membantumenyimpan energi yang dihasilkan selama periode dengankonsumsi energi rendah dan memanfaatkannya saat dibutuhkanselama puncak konsumsi energi. Dengan cara ini, rumah sakit dapat mengurangi ketergantungan pada energi dari sumberkonvensional dan mengoptimalkan penggunaan energi dari sumberterbarukan.

e.    Penggunaan Sistem Monitoring Energi dan Air

Implementasi sistem monitoring energi dan air akan membanturumah sakit untuk mengidentifikasi pola konsumsi energi dan airyang tidak efisien. Data yang dikumpulkan dari sistem monitoringini dapat digunakan untuk mengidentifikasi area-area yangmemerlukan perbaikan dan pengoptimalan. Informasi ini juga dapatmembantu dalam mengambil keputusan yang tepat terkaitpenggunaan energi dan air untuk mengurangi pemborosan.

f.      Pelatihan dan Kesadaran Staf

Kesadaran staf terhadap pentingnya efisiensi air dan energi dalamproses laundry merupakan hal krusial. Pelatihan dan edukasitentang penggunaan air dan energi yang efisien harus diberikankepada staf laundry dan staf rumah sakit lainnya yang terlibat dalamproses pencucian. Mendorong partisipasi aktif dari staf dalamupaya efisiensi ini akan membantu mencapai tujuan ManajemenLaundry Berwawasan Lingkungan (Eco-Friendly).

Dengan mengadopsi strategi efisiensi air dan energi dalam proseslaundry, rumah sakit dapat mencapai manfaat yang signifikan, sepertipengurangan biaya operasional, mengurangi dampak lingkungan,meningkatkan keberlanjutan, dan memberikan kontribusi positif padaperlindungan lingkungan. Selain itu, mengadopsi praktik eco-friendly dalamManajemen laundry juga mencerminkan tanggung jawab sosial rumahsakit terhadap keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.

3.    Pemilihan dan Penggunaan Teknologi Ramah Lingkungan

Dalam upaya untuk menciptakan sistem Laundry BerwawasanLingkungan (Eco-Friendly) di rumah sakit, pemilihan dan penggunaanteknologi ramah lingkungan merupakan salah satu aspek penting yangperlu diperhatikan. Penggunaan teknologi yang tepat dapat membantumengurangi konsumsi air, energi, dan bahan kimia, serta mengoptimalkan proses pencucian dan pengeringan linen medis. Berikut adalah penjelasanpanjang mengenai strategi Manajemen Laundry Berwawasan Lingkungan(Eco-Friendly) di rumah sakit tentang pemilihan dan penggunaan teknologiramah lingkungan:

a.    Pemilihan Mesin Cuci dan Pengering yang Efisien

Pemilihan mesin cuci dan pengering yang efisien merupakanlangkah awal dalam implementasi Laundry BerwawasanLingkungan (Eco-Friendly) di rumah sakit. Mesin cuci berbasis airpanas rendah menggunakan lebih sedikit air dan energi daripadamesin cuci konvensional. Selain itu, mesin pengering berenergirendah akan membantu mengurangi konsumsi energi selamaproses pengeringan. Dalam pemilihan mesin, perhatikan pulakapasitasnya agar sesuai dengan kebutuhan rumah sakit, sehinggamengurangi frekuensi operasional dan penggunaan sumber daya.

b.    Penerapan Sistem Otomatisasi dan Pengaturan Waktu

Sistem otomatisasi dan pengaturan waktu pada mesin cuci danpengering juga merupakan strategi yang penting. Penggunaanteknologi yang dapat mengatur waktu pencucian dan pengeringansecara otomatis akan mengurangi risiko kesalahan danmemastikan proses laundry berjalan dengan efisien. Selain itu,penggunaan sensor untuk mengukur beban cucian dapatmengoptimalkan konsumsi air dan energi yang dibutuhkan sesuaidengan jumlah cucian yang ada.

c.     Teknologi Hemat Air

Rumah sakit dapat mempertimbangkan menggunakan teknologihemat air seperti sistem daur ulang air. Air cucian yang sudahdiproses dapat digunakan kembali untuk mencuci linen yang lebihsedikit terkontaminasi, seperti hand towel atau pakaian staf.Penggunaan kembali air cucian ini akan mengurangi kebutuhanakan air bersih dan mengoptimalkan penggunaan sumber dayaalam.

d.    Teknologi Canggih untuk Pencucian Efisien

Menerapkan teknologi canggih dalam proses pencucian juga dapatmeningkatkan efisiensi. Misalnya, teknologi akselerasi pencucianmenggunakan getaran ultrasonik untuk membantu prosespelepasan noda dan kotoran pada linen tanpa perlu penggunaanbahan kimia yang berlebihan. Teknologi ini juga akan mengurangiwaktu pencucian dan memperpanjang umur pakai linen.

e.    Penggunaan Deterjen Ramah Lingkungan

Selain memilih mesin dan teknologi yang ramah lingkungan,penggunaan deterjen yang bebas dari bahan kimia berbahaya jugamerupakan strategi penting dalam Manajemen LaundryBerwawasan Lingkungan (Eco-Friendly). Deterjen ramahlingkungan yang mudah terurai di lingkungan akan mengurangidampak negatif pada ekosistem air dan tanah. Selain itu, deterjenini juga lebih aman bagi kesehatan pasien dan staf rumah sakityang berhubungan langsung dengan linen medis

4.    Pengelolaan Limbah Laundry yang Berkelanjutan

Strategi Manajemen Laundry Berwawasan Lingkungan (Eco-Friendly) di Rumah Sakit tentang Pengelolaan Limbah Laundry yangBerkelanjutan adalah pendekatan yang berfokus pada penguranganlimbah laundry, daur ulang, dan pengelolaan limbah secara bertanggung jawab untuk mengurangi dampak negatif pada lingkungan. Dalam lingkuprumah sakit, pengelolaan limbah laundry yang berkelanjutan sangatpenting untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, serta mendukungtujuan rumah sakit dalam menerapkan praktik eco-friendly. Berikut adalahpenjelasan panjang mengenai strategi pengelolaan limbah laundry yangberkelanjutan dalam konteks Manajemen Laundry BerwawasanLingkungan (Eco-Friendly) di rumah sakit:

a.    Audit Limbah Laundry

Langkah pertama dalam strategi pengelolaan limbah laundry yangberkelanjutan adalah melakukan audit limbah laundry. Audit inibertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan jumlah limbah yangdihasilkan dari proses laundry. Jenis limbah laundry di rumah sakitbiasanya meliputi air cucian, deterjen, kemasan plastik, dan limbahnon-biodegradabel lainnya. Dengan mengetahui sumber danvolume limbah, rumah sakit dapat merencanakan langkah-langkahuntuk mengurangi, mendaur ulang, atau mengelola limbah secaralebih efektif.

b.    Penerapan Pengurangan Limbah

Strategi pertama dalam pengelolaan limbah laundry yangberkelanjutan adalah pengurangan limbah di sumbernya. Ini dapatdilakukan dengan mengadopsi praktik pengurangan penggunaanplastik dan bahan sekali pakai dalam pengemasan linen.Penggunaan kembali dan daur ulang kemasan, serta penggunaandeterjen yang lebih efisien, juga dapat mengurangi volume limbahyang dihasilkan dari proses pencucian.

c.     Pemisahan dan Pencatatan Limbah

Selanjutnya, strategi yang penting adalah pemisahan limbah danpencatatan yang tepat. Dalam proses laundry, limbah harus dipisahkan berdasarkan jenisnya, seperti limbah cair (air cucian)dan limbah padat (kemasan plastik). Pencatatan yang akuratmengenai volume dan jenis limbah akan membantu dalamperencanaan langkah-langkah pengelolaan yang lebih efektif danmemastikan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan yang berlaku.

d.    Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun

Dalam Manajemen Laundry Berwawasan Lingkungan (Eco-Friendly), limbah berbahaya dan beracun, seperti limbah yangmengandung bahan kimia berbahaya, harus dikelola dengansangat hati-hati sesuai dengan peraturan dan pedoman yangberlaku. Rumah sakit harus memiliki prosedur khusus untukmengidentifikasi, menyimpan, dan membuang limbah berbahayadengan aman, sehingga tidak menyebabkan kerusakan lingkungandan kesehatan manusia.

2.6 Sarana fisik, prasarana dan peralatan

Sarana fisik untuk instalasi pencucian mempunyai persyaratan tersendiri,terutama untuk pemasangan peralatan pencucian yang baru. Sebelum pemasangan,data lengkap SPA (sarana, prasarana, alat diperlukan untuk memudahkan koordinasi dan jejaring selama pengoperasiannya. Tata letak dan hubungan antar ruangan memerlukan perencanaan tekhnik yang matang, untuk memudahkan penginstalasian termasuk instalasi listrik, uap, air panas dan penunjang lainnya, misalnya medekatkan power house dengan steam boiler dan penunjang lainnya. Sarana sikinstalasi pencucian terdiri beberapa ruang antara lain :

1.    Ruang penerimaan linen

Ruang ini memuat :

a.    Meja penerima yaitu untuk linen yang terin!eksi dan tidak terin!eksi. Linenyang diterima harus sudah terpisah, kantung warna kuning untuk yangterin!eksi dan kantung warna putih untuk yang tidak terin!eksi.

b.    Timbangan duduk

c.     Ruang yang cukup untuk troli pembawa linen kotor untuk dilakukan desinfeksi sesuai standart sanitari rumah sakit.Sirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memasang fan atau exhaust dan dan penerangan minimal kategori pencahayaan sesuai pedoman pencahayaan rumah sakit.

2.    Ruang pemisah linen

Ruang ini memuat meja panjang untuk mensortir jenis linen yang tidak terin!eksiSirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memasang !an atau eFhaust !an danpenerangan minimal kategori pencahayaan sesuai pedoman pencahayaan rumah sakit,lantai dalam ruang ini tidak boleh dari bahan yang licin.

3.    Ruang pencucian dan pengeringan

Ruangan ini memuat

a.    Mesin cuci

b.    Mesin pengering

Bagi rumah sakit kelas C dan D yang belum memiliki mesin pencuci harus disiapkan :

a.    Bak pencuci yang terbagi tiga yaitu bak untuk perendam non in!eksius, bakin!eksius dengan desin!ektan, dan bak untuk pembilas.

b.    5isiapkan instalasi air bersih dengan drainasenya.

Lantai dalam ruang ini tidak dibuat dari bahan yang licin dan diperhtikankemiringannya. JIka rumah sakit sudah menggunakan mesin pencuci otomatis maka daya listrikyang diperlukan antara 4,8 – 5 Kva. Petunjuk penggunaan mesin pencuci harus selalu berada dekat mesin cuci tersebut agar petugas operator selalu bekerja sesuai prosedur. Sirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memasang exhaust fan danpenerangan minimal kategori pencahayaan sesuai pedoman pencahayaan rumah sakit.

4.    Ruang penyetrikaan linen

Ruang ini memuat :

a.    Penyetrikaan linen menggunakan Clatwork 6roners, pressing ironer yang membutuhkan tenaga listrik sekitar 3,8 Kva 4 Kva per alat atau jenis yang menggunakan uap dari boiler dengan tekanan kerja uap sekitar 5 Kg/cm dan tenaga listrik sekitar 1 Kva per unit alat.

b.    Alat setrika biasa yang menggunakan listrik sekitar 200 Kva per alat. Sirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memasang !an dan eFhoust !an untukpenerangan minimal kategori sesuai pedoman pencahayaan rumah sakit.

5.    Ruang penyimpanan linen

Ruang ini memuat

a.    Lemari untuk menyimpan linen

b.    Meja administrasi

Ruang ini bebas dari debu dan pintu selalu tertutup.Sirkulasi udara diperhatahankan tetap baik dengan memasang fan/exhoust !andan penerangan minimal kategori pencahayaan sesuai pedoman pencahayaan rumah sakit.

6.    Ruang distribusi linen

Ruang ini memuat :

Meja panjang untuk penyerahan linen bersih kepada pengguna

Sirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memasang !an dan penerangan minimalkategori pencahayaan : C = 100 - 200 Lux sesuai pedoman pencahayaan rumah sakit.

1.    Prasarana listrik

Sebagian besar peralatan pencucian menggunakan daya listrik. Kabel yangdiperlukan untuk instalasi listrik sebagai penyalur daya digunakan kabel dengan jenis NYY untuk instalasi dalam gedung, dan jenis NYFGBY untuk instalasi luar gedungpada kabel Feeder antara panel induk utama sampai panel gedung instalasi pencucian. Pada persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000) untuk pendistribusian daya listrik yang besar, kabel !eeder harus disambung langsungdengan panel utama (Main Panel) rumah sakit, atau panel utama distribusi =Kios> jikarumah sakit berlangganan tegangan menengah (TM) 20 KV dan sudah menggunakan sistem Ring (TM) 20 KV. Adapun tenaga listrik yang digunakan di instalasi pencucian terbagi dua bagian (line) antara lain :

a.    Instalasi penerangan

b.    Instalasi tenaga

5aya di instalasi pencucian cukup besar terutama untuk mesin cuci, mesin pemeras,mesin pengering, dan alat setrika. 5isarankan menggunakan kabel dengan jenis NYY terutama pada kotak kontak langsung ke peralatan tersebut, dan menggunakan tuaskontak (hand switch), atau kotak kontak dengan sistem plug dengan kemampuan 25 amper agar tidak terjadi loncatan bunga api pada saat pembebanan sesaat.;rounding harus dilakukan, teruama untuk peralatan yang menggunakan daya besar,digunakan instalasi kabel dengan diameter minimal sama dengan kabel daya yang tersalurkan.

Untuk instalasi kotak kontak biasa disarankan untuk memperhatikan penempatan,yaitu harus menjauhi daerah yang lembab dan basah. jenis kotak hendaknya yangtertutup agar terhindar dari udara lembab, sentuhan langsung dan paralel yangmelebihi kapasitas penggunaan.

2.    Prasarana air

Prasarana air untuk instalasi pencucian memerlukan sedikitnya 40% dari kebutuhanair di rumah sakit atau diperkirakan 200 liter per tempat tidur per hari. Kebutuhan airuntuk proses pencucian dengan kualitas air bersih sesuai dengan standar air.(eservoir dan pompa perlu disiapkan untuk menjaga tekanan air 2kg/cm.

Standart air

Air yang digunakan untuk mencuci mempunyai standart air bersih berdasarkan PerMenKes No.416 tahun 1992 dan standar khusus bahan kimia dengan penekanantidak adanya :

a.    Hardness – garam (calcium, carbonate dan chloride)

Standart baku mutu : 0-90 ppm

                                      i.        Tingginya konsentrasi garam dalam air menghambat kerja bahan kimia pencuci sehingga proses pencucian tidak berjalan sebagaimana seharusnya.

                                     ii.        Efek pada linen dan mesin garam akan mengubah warna linen putih menjadi keabu – abuan dan linenwarna akan cepat pudar. Mesin cuci akan berkerak (scale !orming), sehingga dapat menyumbat saluran – saluran air dan mesin.

b.    Iron-Fe (besi)

Standart baku mutu : 0-0,1 ppm

                                      i.        Kandungan zat besi pada air mempengaruhi konsentrasi bahankimia, dan proses pencucian.

                                     ii.        Efek 0ada linen dan mesinLinen putih akan menjadi kekuning – kuningan (yellowing) dan linen warnaakan cepat pudar. 4esin cuci akan berkarat.Kedua polutan tersebut (hardness dan besi) mempunyai si!at alkali, sehinggalinen yang rusak akibat kedua kotoran tersebut harus dilakukan proses penetralan pH.

3.    Sasaran uap

Prasarana uap pada instalasi pencucian digunakan pada proses pencucian,pengeringan dan setrika, yakni penggunaan uap panas dengan tekanan uapminimum 5 kg/cm. kualitas uap yang baik adalah dengan fraksi kekeringan minimum 70% (pada skala 0-100%) dan temperatur ideal 70 derajat celcius.

Peralatan pada instalasi pencucian menggunakan bahan pencuci kimiawi dengankomposisi dan kadar tertentu, agar tidak merusak bahan tang dicuci/linen, mesin pencuci, kulit petugas yang melaksanakan dan limbah buangannya tidak termasuk lingkungan.

Peralatan pada instalasi pencucian antara lain :

1.    Mesin cuci/washing mechine

2.    Mesin peras/washing extractor

3.    Mesin pengering/dring tumbler

4.    Mesin penyetrika/flatwork ironer

5.    Mesin penyetrika pres/presser ironer

6.    Mesin jahit/sewing mechine

Produk bahan kimia

Proses kimiawi akan ber!ungsi dengan baik apabila 3 faktor di atas bereaksi dengan baik. Menggunakan bahan kimia berlebihan tidak akan membuat hasil menjadilebih baik, begitu juga apabila kekurangan.

Bahan kimia yang dipakai secara umum terdiri dari :

1.    Alkali

Mempunyai peran meningkatkan !ungsi atau peran deterjen dan emulsfler serta membuka pori dari linen.

2.    Deterjen

Mempunyai peran menghilangkan kotoran yang bersifat asam secara global.

3.    Emulsifler

Mempunyai peran untuk mengemulsi kotoran yang berbentuk minyak dan lemak.

4.    Blech=pemutih

Mengangkat kotoran/noda, mencemerlangkan linen, dan bertindak sebagaidesin!ektan, baik pada linen yang berwarna dan yang putih.

5.    Sour/penetral

Menetralkan sisa dari bahan kimia pemutih sehingga Ph-nya menjadi 7 atau netral

6.    Softener

Melembutkan linen digunakan pada proses akhir pencucian.

7.    Stach/kanji

Digunakan pada proses akhir pencucian untuk membuat linen menjadi kaku, juga sebagai pelindung linen terhadap noda sehingga noda tidak sampai ke serat.

Alat cuci pada instalasi pencucian dijalankan oleh para operator alat, dengandemikian para operator alat harus memelihara peralatannya. Berbagai kelainan padasaat pengoperasiannya, misalnya kelainan bunyi pada alat dapat segera dikenali oleh para operator. Pemeliharaan ringan peralatan pencucian terdiri dari :

1.    Pembersihan peralatan sebelum dan sesudah pemakaian, dilakukan setiaphari dengan menggunakan lap basah dicampur dengan bahan kimia dan dikeringkan dengan lap kering. untuk bagian tombol/kontrol digunakan lap kering dan jangan terlalu ditekan, dikarenakan pada bagian inibiasanya tertulis prosedur dengan semacam stiker yang mudah terhapus. Setelah pemakaian, kosongkan air untuk mengurangi kandungan air dalam mesin sekecilmungkin. Jika terbentuk noda putih di dalam mesin cuci, cucilah bagian dalam drumdengan air bersih.

2.    Pemeriksaan bagian yang bergerak, dilakukan setiap satu bulan sekali yaitupada bearing, ngsel pintu alat atau roda yang berputar. Berilah minyak pelumas atau gemuk. Penggantian gemuk secara total disarankan dua tahun sekali. Jenis danproduk minyak pelumas mesin yang digunakan dapat diketahui dari buku operating manual setiap mesin. Buku ini selalu menyertai peralatan pada saat penerimaan barang.

3.    Pemeriksaan v-belt dilakukan setiap satu bulan yakni secara visual denganmelihat kertakan lempeng v-belt, dan dengan perabaan untuk menilai kehalusan v-belt dan ketegangannya (kelenturan), toleransi pengukuran 0,2 – 0,5 mm. Jikamelebihi atau sudah tidak memenuhi syarat V-belt tersebut segera diganti.

4.    Pemeriksaan pipa uap panas (steam) dilakukan setiap akan dimulaimenjalankan alat pencucian. Setiap saluran diperiksa dahulu terutama pada pipayang terbungkus styro!oam (isolasi) dengan cara dilihat apakah masih terbungkus dengan baik dan tidak ada semburan air atau uap. 0ada prinsipnya pada sambunganantara pipa dengan peralatan pencucian harus dalam keadaan utuh dan tidak bocor. Jika terjadi kebocoran, harus segera dilaporkan pada tekhnisi rumah sakit untuk diperbaiki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Laundry rumah sakit adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan disinfektan, mesin uap (steam boiler), pengering, meja dan mesin setrika. Laundry rumah sakit adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan disinfektan, mesin uap (steam boiler), pengering, meja dan mesin setrika.

Peran pengelolaan manajemen linen di rumah sakit cukup penting. Diawali dari perencanaan, salah satu subsistem pengelolaan linen adalah proses pencucian. Alur aktivitas !ungsional dimulai dari penerimaan linen kotor, penimbangan, pemilahan,proses pencucian, pemerasan, pengeringan, sortir noda, penyetrikaan, sortir linenrusak, pelipatan, merapikan, mengepak atau mengemas, menyimpan, dan mendistribusikan ke unit – unit yang membutuhkannya, sedangkan linen yang rusakdikirim ke kamar jahit.

Strategi Manajemen Laundry Berwawasan Lingkungan (Eco-Friendly) diRumah Sakit yang berfokus pada penggunaan bahan less chemical danramah lingkungan merupakan langkah penting untuk mengurangi dampaknegatif pada lingkungan serta memastikan kualitas dan kebersihan linenyang dihasilkan tetap sesuai standar kesehatan. Berikut adalah penjelasanpanjang mengenai strategi penggunaan bahan less chemical dan ramahlingkungan dalam Manajemen laundry di rumah sakit:

Dalam upaya meningkatkan keberlanjutan dan ramah lingkungandalam operasi laundry di rumah sakit, efisiensi penggunaan air dan energimenjadi salah satu aspek kunci yang harus diperhatikan. Penggunaan airyang berlebihan dan energi yang tidak efisien dapat menyebabkan dampaknegatif pada lingkungan, termasuk meningkatnya konsumsi energi,penggunaan air bersih, serta produksi limbah dan emisi karbon. Olehkarena itu, pengembangan strategi Manajemen Laundry BerwawasanLingkungan (Eco-Friendly) yang berfokus pada efisiensi air dan energiakan membawa manfaat besar dalam mengurangi dampak lingkungan dan mengoptimalkan operasional laundry di rumah sakit. Berikut adalahpenjelasan panjang tentang beberapa strategi yang dapatdiimplementasikan untuk mencapai efisiensi air dan energi dalam proseslaundry di rumah sakit:

Dalam upaya untuk menciptakan sistem Laundry Berwawasan Lingkungan (Eco-Friendly) di rumah sakit, pemilihan dan penggunaanteknologi ramah lingkungan merupakan salah satu aspek penting yangperlu diperhatikan. Penggunaan teknologi yang tepat dapat membantumengurangi konsumsi air, energi, dan bahan kimia, serta mengoptimalkan proses pencucian dan pengeringan linen medis. Berikut adalah penjelasanpanjang mengenai strategi Manajemen Laundry Berwawasan Lingkungan(Eco-Friendly) di rumah sakit tentang pemilihan dan penggunaan teknologiramah lingkungan

Komentar

Postingan populer dari blog ini